Debian versi stable (sekarang lenny) memang terkenal akan versi aplikasi yang sudah tertinggal dari yang terbaru. Salah satu contohnya adalah pidgin. Beberapa bulan yang lalu Yahoo mulai menghapus support untuk yahoo messenger versi lama sehingga menyebabkan sulitnya pidgin untuk login ke jaringan yahoo. Loh pengaruhnya apa ?? ini karena pidgin memperkenalkan diri di jaringan Yahoo sebagai yahoo messenger versi lama. Cerita lengkapnya bisa ditengok disini. Memang tidak semua server Yahoo di-upgrade, tetap ada beberapa server yang masih bisa untuk login ke jaringan Yahoo. Dan saya memutuskan untuk tetap bertahan di pidgin 2.4.x yang harus menggunakan server Yahoo lain yang belum di upgrade. Sebetulnya sih karena malas upgrade aja :D

Beberapa hari yang lalu kejadian yang sama terulang lagi. Sebabnya kurang lebih sama. Ya sudah sekalian upgrade aja deh daripada nanti-nanti repot lagi. Eh, bukannya upgrade pidgin dari 2.4.x ke 2.6.x di lenny sama aja dengan upgrade semua sistem ?? soalnya kan pidgin 2.6.x ada di sistem testing. Betul itu, tapi untungnya ada yang berbaik hati mau menyiapkan pidgin 2.6.x untuk sistem lenny dan sudah disediakan di backports.org (atau saya lebih suka menyebut debian-backports). Terus gimana caranya ??

Continue reading

Ever trying to remove a lot of file like this ?

[root@blah]# ls -l log/ | wc -l
2041335

It wont work if you just remove it with rm because there will be an error message (i.e. /bin/rm: Argument list too long). So how to remove it ?? I use this command to remove it

[root@blah]# find ./ -name ‘msg.*’ | xargs rm -fv

I’m using msg.* becasue the filenames I want to remove begin with msg.. You can vary it depend on your need.

source of inspiration

Yes, the Gutsy Gibbon (a.k.a ubuntu 7.10) has reached end of his life on April 18, 2009. Anyway most of the users still use this gutsy version for it’s old computer. So in this case upgrading to the newer version could torture these old computers. For that reason I choose to preserve the old ubuntu repository such as feisty and gutsy in my campus repository. For you that still using feisy and gutsy you can still use feisty and gutsy repository in repo.ugm.ac.id/ubuntu-unsupported. Other method is using repository dvd that still exist in here or here.

Btw, the jackalope has been out of it’s cage ;)

Dari dulu saya memang naksir yang namanya palmOS salah satunya karena responnya yang cepat. Alhamdulillah akhirnya saya diberi kesempatan menggunakan sebuah gadget bersistem operasi palmOS. Secara kebetulan big boss melelang palm treo 650 miliknya dengan persyaratan kalau sudah bosan menggunakan harus dijual lagi ke beliau :D . Kesempatan tidak datang dua kali, langsung saja saya membuka thread di groupware lokal untuk memulai lelang. Setelah lelang yang alot di detik-detik akhir akhirnya bisa juga saya menangkan.

treo 650

Continue reading

Bagaimana cara anda mengajak orang lain untuk menggunakan aplikasi (katakanlah) open source ?? Kebanyakan pasti mengajak dengan alasan bahwa aplikasi ini gratis lho, atau bebas dari bajakan, dsb. Mungkin sudah saatnya mengajak pengguna untuk menggunakan perangkat lunak open source dengan cara menunjukkan “gigi”nya. Ga usah malu buat anda yang giginya

Sebetulnya ini pengalaman saya, kalau mengajak menggunakan sebuah aplikasi open source dengan alasan gratis dan membebaskan diri dari bajakan sepertinya kurang ampuh. Tapi ketika diperlihatkan kemampuannya banyak orang langsung tertarik. Dulu sewaktu menyusun Tugas Akhir, saya menggunakan openoffice. Sudah jelas styling di OpenOffice itu memang sangat powerfull dan juga bisa membuat sendiri daftar isi secara otomatis, sebuah fitur yang belum banyak orang tahu. Dengan menggunakan OpenOffice jelas saya sangat diuntungkan, hanya membutuhkan satu buah file saja untuk menyimpan dokumen dengan berbagai macam format halaman, penomoran halaman, dan styling. Bahkan untuk menjadikannya PDF tidak perlu mencari aplikasi lainnya. Berbeda dengan rekan-rekan saya yang masih memisahkan file yang berisi format halaman yang berbeda-beda. Implikasinya ketika mereka melakukan revisi ribetnya bukan main karena harus mengedit tidak hanya satu file. Bayangkan saja kalau satu bab adalah satu file. Ketika harus menambahkan halaman baru di bab 2 misalnya maka file untuk bab 3 dst harus diedit juga. Namanya menyiksa diri sendiri :D

Dengan saya berikan sebuah contoh nyata keunggulan menggunakan OpenOffice mereka jelas tertarik, bukan karena faktor “free”nya tetapi karena “gigi”nya itu. Kalau masih mengandalkan faktor “free” (bebas dan gratis) maka aplikasi Microsoft Word pun mereka dapatkan dengan bebas dan gratis karena mereka (yang notabene mahasiswa teknik) tidak mengindahkan UU HaKI.

Jadi sekarang saatnya mengajak migrasi dengan mengedepankan kemampuan bukan karena faktor “free” :)

Today my fight with sudo is over, I finally can conquer it. Once this error come to me when I using sudo on centos :

Fatal error (bad version): sudo: symbol lookup error: sudo: undefined symbol: audit_log_user_command

After quite long searching for the solution finally got it today. It turns out a simple solution, In my case after I upgrade the audit and it libs sudo works fine. So my mistakes is I’m using the newest sudo but I didn’t upgrade the audit-libs.

Ha, a simple solution but makes me very confused :D

pernah mengalami pesan seperti ini ketika anda ketik hwclock di terminal ??

select() to /dev/rtc to wait for clock tick timed out

Solusinya adalah dengan menambahkan opsi --directisa ketika mengeksekusi hwclock.

Sepertinya kejadian ini berkait erat dengan hardware yang dipakai karena saya sendiri mencoba dengan installer yang sama di mesin berbeda menghasilkan pesan error tersebut.

Sumber :

  1. debian bug #410328
  2. debian bug #27798
  3. solusi
  4. solusi juga