Setelah lama penasaran dengan jalur banjar – cijulang yang mempunyai pemandangan luar biasa apalagi di jembatan ciputrapinggan yang bersebelahan dengan muara sungai, akhirnya kesampaian juga.

Perjalanan dimulai dari Jogja pada hari jumat. Berangkat menggunakan sawunggalih selatan dari kutoarjo jam 8.25. Dari jogja ke kutoarjo menggunakan prameks, kereta komuter kebanggaan DAOP VI. Sampai di kutoarjo kereta sudah siap dilangsir untuk diberangkatkan. Sebelum naik ke kereta ngobrol dulu dengan pak masinis, kebetulan masinis yang bertugas sudah kenal. Setelah ngobrol trus naik ke kereta cari tempat duduk, dapetnya sudah di bagian belakang. Singkat cerita kereta sudah jalan dan sudah nyampe di stasiun banjar. Karena pak masinis yang bertugas ganti dengan masinis lain maka lanjut ngobrol lagi di stasiun :D

Karena jelajah baru dimulai besoknya jadi harus cari penginapan dulu buat malam itu juga. Namanya railfans akhirnya pilih penginapannya juga yang deket sama staiun. Akibatnya pagi-pagi kebangun terus setiap ada kereta mau berangkat dari stasiun.

Besok paginya semua peserta dikumpulkan di depan stasiun banjar. Setelah sedikit kilas balik di stasiun banjar rombongan berangkat menuju spot selanjutnya yaitu stasiun banjarsari. Sekilas info dikit, sebelum krismon, jalur ini pernah dicoba diaktifkan kembali namun hanya sampai stasiun banjarsari. Pas krismon lah jalur ini bisa dikatakan hilang, bagaimana tidak, rel dan bantalan besi berubah bentuk menjadi uang, bantalan kayu sudah berubah bentuk juga. Di stasiun banjarsari sisa jalur Banjar – Banjarsari hanya tinggal stasiunnya saja. Sisa-sisa lainnya benar-benar sudah tidak ada. Beberapa bagian tanah di area stasiun banjarsari berlegok-legok seperti bekas tempat bantalan.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke objek selanjutnya yaitu terowongan hendrik (Duke Heinrich Wladimir Albrecht Ernst) dan jembatan cikacepit. Nama lain dari terowongan hendrik adalah prins hendrik (mungkin serapan dari prince -pangeran- hendrik). Terowongan hendrik sendiri merupakan terowongan kereta terpendek di Indonesia. Sedangkan jembatan cikacepit sendiri berada tepat setelah terowongan hendrik. Jembatan cikacepit sendiri menawarkan pemandangan yang luar biasa, dari bawah jembatan tersebut terlihat megah karena menghubungkan dua bukit dengan jarak yang lumayan panjang. Sayangnya beberapa bagian rangka jembatan sudah hilang. Cerita dari yang Letak terowongan hendrik mudah sekali dicapai karena dekat dengan jalan raya. Terowongan ini sekarang digunakan oleh warga sebagai jalan pintas bahkan truk pun lewat situ :D

Setelah dari jembatan cikacepit dan terowongan hendrik rombongan langsung bergerak menuju spot selanjutnya yaitu terowonan kereta terpanjang di Indonesia yaitu terowongan wilhelmina (Wilhelmina Helena Pauline Maria) atau terowongan sumber. Panjangnya kurang lebih 1 KM, saking panjangnya sampai ujung terowongan satunya terlihat sangat kecil sekali. O ya, untuk menuju ke terowongan wilihelmina ini tidak seperti saat menuju ke terowongan hendrik yang berada dekat pinggir jalan, terowongan wilhelmina ini berada sangat jauh dari jalan raya bahkan untuk mencapainya harus menuruni bukit yang lumayan terjal dulu. Sewaktu saya menuju terowongan itu pas sedikit gerimis sehingga tidak semua anggota rombongan ikut turun karena medannya. Perjalanan pun hampir dibatalkan, tapi setelah ditunggu sebentar dan mengontak panitia yang sudah stand-by di depan terowongan bahwa di lokasi tidak gerimis sama sekali maka perjalanan pun dilanjutkan.

Pengorbanan pun terbayarkan sudah ketika sampai di mulut terowongan wilhelmina, takjub rasanya melihat terowongan yang begitu panjang sampai-sampai mulut terowongan satunya hanya terlihat seperti titik putih saja. Karena saking panjangnya rombongan tidak diperbolehkan masuk ke dalam terowongan.



Dari terongan wilhelmina jalan sedikit langsung ketemu lagi dengan terowongan juliana (Juliana Luise Emma Marie Wilhelmina van Oranje-Nassau) atau dikenal dengan terowongan bengkok. Terowongan ini lain dengan terowongan pada umumnya karena terowongan ini berbelok. Kalau dilihat sepertinya kereta sekarang tidak dapat lancar melewatinya, mungkin gerbong GGW masih bisa. Keluar dari terowongan juliana bertemu lagi dengan jembatan kecil yang merupakan terusan dari jembatan cikacepit. Setelah selesai tidak lupa foto bersama di depan terowongan wilhelmina. Kalau berangkat menuruni bukit maka pas kembali ke bis harus menaiki bukit lagi. Capeknya bukan main, tapi puas sekali.

Perjalanan dilanjutkan ke objek selanjutnya yaitu jembatan ciputrapinggan yang menjadi salah satu alasan saya ingin ikut jelajah ini. Tapi ternyata sebelum menuju objek tersebut rombongan diberhentikan di tempat makan untuk ishoma. Sebelumnya saya kira kalau jembatan ciputrapinggan masih jauh dari tempat makan ternyata ada di balik bukit belakangnya rumah makan itu :doh: . Silahkan anda lihat dan bayangkan bagaimana indahnya kalau ada kereta lewat sana atau kita berada di kereta yang lewat disitu. Dari atas bukit kemudian turun memutar untuk melihat ciputrapinggan dari tepat di bawah dan sampingnya, kemudian menuju ke pantai dekat jembatan tersebut.

Setelah dari jembatan ciputrapinggan langsung menuju penginapan di pantai batukaras. Ternyata pantai batukaras mirip dengan pantai kukup yang ada di jogja dan juga pantai ini unik karena menghadap agak ke utara bukan ke selatan padahal pantai ini terletak di selatan pulau jawa. Setelah makan malam langsung pulas tidur karena kelelahan. Paginya tidak lupa melihat matahari terbit di bukit pinggir pantai batukaras. Beruntung saya karena pas saya naik tidak lama kemudian mataharinya nongol, padahal perkiraan sebelumnya sudah terlambat untuk menikmatinya.


Dari penginapan lanjut ke objek selanjutnya tapi bukan ke objek perkeretaapian melainkan benar-benar ke objek wisata yaitu cukang-taneuh atau lebih dikenal dengan nama green canyon. Ternyata sebagus itu green canyon. Stalagtit yang menggantung benar-benar luar biasa, bahkan air tanah pun mengalir melewat stalagtit tersebut seperti huja yang terus-terusan datang. Sungai yang harus dilewati agar sampai ke green canyon nampak sangat tenang tetapi ternyata dalam dan arus bawahnya lumayan kuat.

Dari green canyon perjalanan lanjut ke bekas stasiun cijulang. Katanya kompleks stasiun cijulang ini sangat luas, tapi sekarang semakin sempit karena beberapa lahannya dipakai oleh penduduk. Saya menaruh apresiasi tinggi kepada masyarakat sekitar stasiun cijulang karena semua rel, wesel dan bantalannya masih utuh terjaga. Menurut keterangan, warga tidak mau citranya menjadi buruk jika ada yang hilang sehingga mereka sangat menjaga aset tersebut. Bukan hanya rel saja yang masih dijaga tetapi juga isi dari stasiun.

Puas melihat bekas rel dan stasiun dan juga makan siang perjalanan dilanjutkan menuju ke stasiun pangandaran. Stasiun ini ternyata terletak tidak jauh dari objek wisata pantai pangandaran, andai saja jalur ini masih aktif mungkin akan ada pangandaran ekspres relasi banjar – pangandaran atau bahkan bandung – pangandaran. Seperti stasiun cijulang, stasiun pangandaran ini bisa dibilang masih terjaga walaupun rombongan tidak bisa masuk ke dalam stasiun. Tapi papan PPKA masih ada di stasiun tapi sisa relnya hanya beberapa meter saja tidak utuh seperti di stasiun cijulang.

Dari stasiun pangandaran rupanya panitia memberi sebuah bonus yaitu masuk ke pantai pangandaran. Lumayan bisa sekalian lihat pantai pangandaran, ini juga pertama kalinya ke pantai pangandaran.Ternyata pangandaran ya cuma gitu-gitu aja pantainya, bedanya ada zona tidak boleh berenang dan ada zona tidak boleh berenang.

Dari pangandaran rombongan langsung kembali menuju stasiun banjar lagi. Dari banjar ini saya berencana ke bandung dahulu baru kemudian kembali ke Jogja. Lho kok ribet kenapa ga langsung banjar – Jogja ? ini karena saya penasaran dengan jalur Bandung – Jogja, mumpung lagi bisa pergi maksudnya sekalian saja dari bandung (singkatnya karena belum pernah melewati jalur priangan timur :D ). Malam itu juga akhirnya saya putuskan untuk ke bandung menggunakan lodaya malam dari Solo yang sampai banjar jam 2 malam dan karena itu pula tidak jadi menginap di tempat stwn seperti yang sudah direncanakan. Trus sampe jam 2 malam nongkrong di stasiun banjar gitu ?? ya nggak lah, untungnya bisa meminjam tempat di mess untuk isitrahat sebentar walaupun sempat terbangun ketika ada suara semboyan kereta.

Sampai di Bandung hanya sempat sarapan kupat tahu bumbu kacang yang setengah porsi aja udah bikin kenyang luar biasa dan ngobrol sebentar dengan stwn yang menyempatkan ke stasiun bandung (nuwun mas stwn). Belum puas chit-chat dengan stwn kereta sudah mau diberangkatkan. Kali ini sesuai dengan harapan saya, cuaca lumayan cerah untuk menikmati indahnya jalur bandung – banjar. Tapi apa daya karena kurang tidur akhirnya tidak bisa juga menahan kantuk yang luar biasa, akhirnya terlelap sudah selepas stasiun cipendeuy dan terbangun tepat di stasiun banjar (kelewatan cipendeuy – banjar :doh: ). Sampai di Jogja beres-beres kemudian siap-siap berangkat untuk menunaikan shift III :D

Terima kasih untuk panitia jelajah jalur mati banjar – cijulang, ardian (BD), dimas (BD), dan rendi (YK) yang sudah ikut di lodaya malam dan nemenin di stasiun bandung. Dan juga stwn yang masih menyempatkan diri untuk ketemuan.

Album foto jelajah kali ini ada di sini. Tadinya mau di hotlink-kan disini tapi takutnya ga dibolehin sama facebook jadi ya ambil dari flickr aja :D

Tidak ada Komentar

    (Required)
    (Required, will not be published)