me and wajanbolic

Melihat banyaknya inovasi yang diciptakan oleh anak bangsa saya jadi kepingin membuat tulisan berseri tentang inovasi Indonesia. Mungkin tidak semua inovasi-inovasi yang ada yang saya tulis, tapi hanya inovasi yang saya paham betul dan beberapa mungkin merupakan inovasi yang tidak terfikir oleh negara lain.

Seri inovasi Indonesia yang pertama kali ini adalah di dunia IT. Buat yang sering nge-net gratis di cafe atau dimanalah pasti sering denger yang namanya hotspot dan wifi. Kali ini inovasi yang akan saya bahas adalah di dunia internet wireless. Wireless internet di indonesia banyak yang terkoneksi menggunakan antena grid yang mahalnya bukan main, kisaran harganya dari 700rb – 1jt. Tentu kalau mau ber-internet dengan menggunakan antena grid akan semakin mahal biayanya. Selain antena grid adalagi antena lain yang lebih murah contohnya yagi dan patch panel tapi tentu dengan tingkat penerimaan yang lebih rendah dibanding dengan antena grid.

Terbersitlah sebuah ide dari pak Gunadi untuk membuat sebuah antena dari bahan-bahan yang ndeso dan bisa didapatkan dengan mudah dan murah. Sebutlah sebuah wajan, suatu alat memasak yang bisa dipastikan ada di setiap rumah yang akan disulap menjadi sebuah antena. Bahan lainnya adalah pipa, ya pipa yang biasa digunakan untuk mengalirkan air atau sebagai pot bunga (ini juga kreativitas :D ). Dengan bahan-bahan tersebut jadilah sebuah perpaduan prinsip-prinsip antena parabolic dengan antena kaleng yang akhirnya dinamakan wajanbolic nDeso. Dan sebagai pengingat atas sang inovator maka namanya menjadi wajanbolic e-goen (e-goen sendiri adalah alias beliau di milis).

Dengan wajanbolic ini banyak masyarakat menjadi “wow” karena hanya berbekal wajan saja bisa konek internet, jadi ga bergantung oleh antena pabrikan. Tentu ini sangat cocok diterapkan di sisi end user. Mudah, murah, ya walaupun agak ndeso kalau sudah dipasang dan bahkan mengundang pertanyaan, “Itu ngapain wajan di taro di atas sana ??”. Pengalaman saya menguji coba antena wajanbolic bersama beliau banyak yang bertanya-tanya, buat apa itu wajan kok dibawa kesana kemari ??

me and wajanbolic

me and wajanbolic

me and wajanbolic

Saya sempat mengenal beliau ketika menghadiri workshop kecil-kecilan di yogyakarta, waktu itu namanya workshop nDeso wajanbolic. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa dengan ide yang sangat sederhana tapi dapat menjadikan sebuah solusi yang cemerlang. Dan dengar-dengar juga bahwa banyak negara di luar sana kagum atas inovasi wajanbolic e-goen ini.

Lama tidak kontak-kontak ternyata Pak Gun sudah melanglang-buana ke eropa *wew*. Foto paling atas itu ceritanya saya sedang “narsis” dengan wajanbolic. Ya.. ya… foto saya diatas bukan seperti yang sekarang, masih yang culun :D . Terima kasih Pak Gun atas foto-fotonya dan inovasinya ;)

1 Komentar

  • At 2010.05.14 20:21, rusdi said:

    lam knal.wah saya iri mas sampeyan bisa nyoba itu antena langsung didampingi dengan pak goen.ngomong2 wifinya yg dipakai apa mas.trus nembak brapa kilo

    (Required)
    (Required, will not be published)