Beberapa minggu yang lalu (apa udah bulan ya ??) baru saja meng-kristalisasi-kan keringat menjadi sebuah kotak seperti sabun berwarna hitam.

w200i

Yup, itu adalah hape SonyEricsson W200i. Kenapa akhirnya milih model yang ini ?? karena memang keringat yang di kristalisasikan segitu aja dulu yang lainnya ditabung buat macbook, rumah, dan mobil :p . SonyEricsson W200i bukan termasuk hape yang minim fitur dari si sonierika. Fitur-fitur W200i bisa dibilang cukup lah kalau buat saya walaupun kameranya masih kualitas 640×480 :D . Soal kualitas kamera ga terlalu saya perhatiin karena sudah punya yang agak bagusan, dan memang kameranya W200i hanya saya gunakan untuk candid saja untuk live kron atau menyimpan sesuatu yang menarik selama lagi di jalan. Kalau harus bawa kamera saya itu kan ga portabel :D . Fitur lain yang saya sasar di W200i adalah musiknya, karena SonyEricsson terkenal akan multimedianya. Ternyata SonyEricsson sudah memikirkan untuk membuat kabel audio ekstension agar dapat dihubungkan dengan speaker eksternal yang tersedia di paket SonyEricsson seri W. Ketika masih memakai SL45 saya harus membuatnya sendiri dengan mengorbankan headset abal-abal :D . Fitur lainnya adalah gprsnya, salah satu alasan utama memilih W200i adalah gprsnya supaya bisa ngekron, ngenet, dan ngecek email dimanapun sejauh gprs Indosat tersedia.

audio ekstension

Dari segi desain W200i juga tidak terlalu mengecewakan, bentuknya yang candybar nyaman digenggam walaupun ketika ngetik dengan keypadnya agak berisik tapi masih nyaman. Untuk suara speaker luarnya tidak terlalu bagus karena bassnya kurang kerasa, tapi berhubung saya tidak terlalu suka menyetel musik lewat speaker luar jadi itu tidak terlalu pengaruh. Ketika akan memainkan musik bisa langsung menggunakan tombol shortcut berwarna oranye di sebelah kiri atas. Tapi saat memainkan musik sampai sekarang saya masih belum menemukan tombol yang berfungsi untuk pause, ini yang agak aneh. Saya sudah memencet berbagai macam tombol tapi kok ga ada yang berfungsi untuk pause, termasuk tombol shortcut musik dan tombol yang berada di headset.

Untuk urusan memori penyimpanan W200i menggunakan Memory Stick™ Micro (M2) dari sony (pastinya) yang kecilnya sebesar kuku jempol :D sebesar 128 MB dan memory internal sebesar 27 MB. Untuk memory cardnya pun sudah hot swap jadi tidak perlu mematikan handphone terlebih dulu tapi sangat disarankan jika mau mengeluarkan memory cardnya handphone dimatikan terlebih dahulu. Kapasitas memory yang disediakan secara default dari SonyEricsson sudah cukup untuk menyimpan beberapa lagu (sekitar -+ 50 lagu). Memory card M2 masih tergolong mahal jika dibandingkan dengan keluarga MMC dan SD.

memory M2

Kekuatan baterainya selama -+ 2 hari untuk standby, saya pernah mencoba untuk ngekron hanya bertahan 1 hari. Ketika dipakai telpon pun terasa agak aneh pas tertempel di kuping, karena bagian speakernya lebar dan rata tidak seperti hp saya yang terdahulu (SL45).

Fitur lainnya yang baru ter-eksplor adalah adanya sticky note. Kita bisa membuat note terlebih dahulu dan note penting bisa ditampilkan di layar ketika keadaan stand-by, jadi seperti sticky note ;) . Kemudian juga W200i ini juga sudah dapat dideteksi dengan baik oleh linux, baik sebagai storage maupun modemnya. Ketika saya lakukan wvdialconf, linux langsung mendeteksinya sebagai SonyEricsson W200 modem dan berada di /dev/ttyACM0.

ttyACM0<*1>: Modem Identifier: ATI — Sony Ericsson W200
Found an USB modem on /dev/ttyACM0.

Popularity: 57% [?]


Related Posts

  • No related posts